Skip to content
cara mengatasi toddler tantrum

Tips Mencegah & Mengatasi Toddler Tantrum

Tantrum atau kejadian dimana anak mengamuk, marah, dan menangis kencang merupakan hal yang normal terjadi di masa balita. Penting untuk mengetahui cara mengatasi toddler tantrum yang tepat karena cara orang tua menyikapi tantrum sangat berdampak besar pada perkembangan anak.

Yuk, kenali lebih jauh mengenai penyebab tantrum pada balita dan bagaimana cara mencegahnya.

Mengapa Toddler Tantrum Bisa Terjadi?

Toddler tantrum terjadi ketika balita merasa frustasi atau kesal karena tidak bisa melakukan sesuatu atau tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Hal ini disebabkan karena mereka kesulitan mengerjakan sesuatu atau tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya.

Ada banyak faktor penyebab atau pemicu terjadinya toddler tantrum, seperti kondisi anak yang lelah, lapar, sakit, atau harus berganti aktivitas. Dalam situasi ini, mereka cenderung kurang sabar dan lebih sulit mengendalikan emosi. Memahami pemicu ini dapat membantu orang tua menangani tantrum dengan lebih baik.

Penelitian menunjukkan bahwa tantrum paling sering terjadi pada usia dua hingga tiga tahun, namun bisa juga dimulai pada usia 12 bulan. Sangat umum bagi balita untuk mengalami setidaknya satu kali tantrum setiap hari. Faktanya, sekitar 20% anak usia dua tahun, 18% anak usia tiga tahun, dan 10% anak usia empat tahun mengalami tantrum setiap hari. 

Saat balita sudah belajar berbicara lebih banyak, ledakan kemarahannya biasanya akan berkurang. Mereka sudah dapat mengekspresikan diri mereka lebih baik dengan kata-kata dan bisa memberitahu apa yang mereka rasakan atau inginkan.

Tips Mencegah Toddler Tantrum

Untuk mencegah tantrum pada balita, orang tua perlu memahami apa yang menjadi pemicunya terlebih dahulu dan memastikan hal tersebut tidak terjadi. Meskipun tidak ada cara yang 100% ampuh untuk mencegah atau menghentikan tantrum, orang tua dapat melakukan beberapa hal untuk mendukung perilaku yang baik dan mengurangi frekuensi terjadinya tantrum seperti berikut ini.

1. Konsisten dengan Rutinitas

Menetapkan rutinitas makan dan tidur yang konsisten sangatlah penting. Ini memenuhi kebutuhan dasar anak akan makanan dan istirahat serta membantu mereka mengetahui apa yang akan terjadi setiap hari. Rasa lapar, lelah, dan kurang istirahat bisa membuat anak mudah marah dan tantrum.

Balita juga mungkin sudah tidak membutuhkan tidur siang, tetapi Parents bisa memberinya waktu istirahat dengan quiet time.

2. Selalu Merencanakan Aktivitas

Untuk mencegah toddler tantrum, rencanakan terlebih dahulu aktivitas tertentu dan hindari pemicunya. Misalnya, ketika bepergian keluar pastikan anak tidak lapar atau lelah, lalu jika aktivitas tertentu mengharuskan Parents dan si kecil untuk menunggu dalam waktu lama, bawalah mainan atau makanan ringan untuk mencegah kebosanan dan frustasi. 

3. Berikan Pilihan

Memberi balita pilihan yang terbatas dapat membantu mereka merasa memegang kendali dan mengurangi rasa frustasi. Misalnya biarkan ia memilih rasa makanan yang akan dibeli, atau memilih mainan apa untuk dibawa pergi.

4. Berikan Pujian

Memuji perilaku yang baik adalah cara yang baik untuk mencegah tantrum sehingga mereka tahu mana perilaku yang bisa diterima dan tidak. Parents juga bisa membiarkan anak bebas bermain di siang hari untuk membantu mengurangi tantrum dengan melepaskan energi. 

5. Validasi Emosi Anak

Biasakan untuk berbicara atau berbagi perasaan dengan anak. Buatlah anak mengenal dan melabeli berbagai emosi, termasuk marah, senang, dan sedih agar ia dapat lebih mudah mengendalikan emosinya.

6. Ajari Anak Teknik Menenangkan Diri

Mengajari balita cara menenangkan diri misalnya dengan menarik napas dalam-dalam atau menghitung hingga 10 ketika merasa marah atau kesal. Praktekkan bersama-sama untuk membantu balita balita mengelola emosinya dan menangani situasi sulit dengan lebih mudah.

Cara Terbaik Menanggapi Toddler Tantrum

1. Tetap Tenang

Saat anak sedang mengamuk, penting untuk tetap tenang. Bereaksi dengan respons yang keras atau marah dapat memperburuk keadaan. Jika Parents meneriaki anak agar diam, dia mungkin akan semakin kesal. Dengan tetap tenang, Parents dapat menunjukkan kepada mereka bagaimana menangani emosi yang besar dengan cara yang lebih baik.

2. Alihkan Perhatian Anak

Mengalihkan perhatian anak dapat membantu menenangkannya lebih cepat. Saat si kecil sedang kesal, cobalah memindahkannya ke tempat lain atau sarankan hal lain yang harus dilakukan untuk mengalihkan pikirannya. Memberi mereka hal lain untuk dilakukan dapat membantu mereka melupakan apa yang membuat mereka kesal. Pastikan saja mereka masih dalam pengawasan dan jauh dari hal-hal berbahaya.  

 

*** 

Terkadang, anak bisa mengamuk dengan intens, menunjukkan kemarahannya dengan memukul, menendang, atau melukai dirinya sendiri. Jika si kecil menunjukkan perilaku berbahaya seperti memukul orang lain atau berlari kabur, lakukan intervensi dengan memegangnya hingga ia tenang.

Setelah anak tenang, Parents dapat memberitahunya mengenai peraturan yang sudah disepakati sebelumnya. Kemudian, Parents juga bisa menerapkan time outApabila Parents kesulitan mengendalikan anak yang tantrum, dan tantrum sangat sering terjadi, sebaiknya konsultasikan pada ahlinya seperti dokter atau psikolog. 

Toddler tantrum memang merupakan salah satu bagian dari perkembangan anak, tetapi orang tua perlu tahu cara mengatasi ledakan emosi ini dengan tepat. Dengan menerapkan strategi yang efektif, kita dapat mendukung pertumbuhan emosi anak yang lebih sehat, semoga bermanfaat!

 

Sumber:

Mayo Clinic - Temper tantrums in toddlers: How to keep the peace
https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/infant-and-toddler-health/in-depth/tantrum/art-20047845

Nemours Kids Health - Temper Tantrums
https://kidshealth.org/en/parents/tantrums.html

WebMD - Tantrum Red Flags
https://www.webmd.com/parenting/child-tantrum-behavior-disorder

Temper Tantrums
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK544286

Hi, I’m Elvina!

Founder of @happylittlesleeper & a proud mama

If you're dreaming of a good night's sleep…
trust me, I understand your struggle intimately. I've been in those sleep-deprived shoes, functioning on auto-pilot, feeling like a walking zombie in what should be a magical time of motherhood. But… I also know there's light at the end of this exhausting tunnel...

GET TO KNOW ME